Friday, December 23, 2011

Pentingnya Jalan - Jalan! [Kisah Burung Merpati]

Beberapa ratus tahun yang lalu,
Merpati di daerah negara yang bersalju selalu berpergian dari satu tempat ke tempat lain untuk mengindari salju yang sangat dingin.

Dari satu tempat ke tempat lain,
mereka tidak pernah capai untuk berpergian...

Sampai suatu saat,
beberapa gerombolan Merpati mendarat di Pulau Mauritius

Di Pulau Tersebut sangatlah nyaman
tidak ada salju yang mengintai mereka...

Segerombolan Merpati pun memutuskan untuk tidak berpergian lagi,
karena sangat nyaman di tempat tersebut,

Apalagi tidak ada predator/pemangsa alami mereka disana...

Sehingga merpati yang ditakdirkan untuk hidup diatas pohon,
untuk mengindari pemangsa mereka dan menciptakan sarang di atas pohon,
mulai melupakan kodrat mereka...

Sehingga mereka hidup di darat...

Kaki mereka yang dulu kecil,
sekarang menjadi besar dan gemuk

Sayap mereka yang kuat untuk terbang jauh,
lemah karena tidak pernah digunakan..

Merpati tersebut berpikir mengapa mereka susah-susah untuk terbang dan membuat sarang di pohon?
kalau hidup di daratan ternyata lebih mudah dan nyaman...

Tanah Surga Kata Mereka....

Beberapa ratus tahun kemudian,
Manusia sampai di Pulau Mauritius...

Karena Merpati yang sudah beberapa generasi tidak mengenal musuh,
mereka menganggap manusia adalah sahabat mereka..

Rasa takut dan waspada sudah tidak ada di diri mereka

Manusia yang mempunyai naluri memburu,
tidak segan-segan menangkap Burung Merpati tersebut..

Karena manusia pada saat itu tidak mengenal dengan ternak dan cara menernakan binatang,
Merpati-merpati di pulau Mauritius mengalami penurunan populasi yang cepat..

dan hanya dalam kurang 100 tahun,
populasi merpati di pulau tersebut hilang

Beberapa ilmuwan kesulitan menemukan tulang-tulang merpati tersebut untuk diabadikan di Museum...

Sekarang kita mengenalnya dengan nama BURUNG DODO


Hikmah Cerita di atas:

 - Terkadang hidup kita terlalu nyaman , sehingga lupa untuk terus berusaha dan belajar.

 Ingat , kita hidup di Indonesia yang sangat nyaman,
beda dengan Eropa dan Amerika yang mengenal 4 musim...

Karena mereka cuaca yang tidak mendukung, mereka sering berpergian sampai Ke Asia serta Indonesia untuk mencari sesuatu yang tidak mereka punya di negara mereka,
sehingga mereka lebih cekatan

- Seseorang yang seseorang berpergian, memiliki kesempatan untuk melakukan Komparasi dan wawasan yang luas.
Peluang bisnis pun terbuka.

Berbeda kalau kita hanya mensyukuri keadaan sekarang dengan hanya tidur dan bermalas-malasan


- Seseorang yang jarang sekali berpergian, akan cenderung "kaku" karena sudah terbiasa hidup nyaman, sehingga enggan untuk mencoba hal baru

 Semoga kita semua memiliki semangat untuk selalu mau pergi ke tempat-tempat lain ya :)

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

 Hal tersebut sesuai dengan Firman berikut

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
surat Al Hujuraat ayat 13

 Semoga bermanfaat

Friday, August 12, 2011

Ilmuwan Indonesia tidak DIBUTUHKAN di Negeri Sendiri, Pendidikan Harus Direformasi


Thread ini terinspirasi dari keprihatinan saya terhadap pendidikan sekarang ini. Semoga thread ini bisa menambah inspirasi dan wawasan kita semua. Tulisan in saya mulai dengan sebuah kisah kakak teman saya.
Dia adalah lulusan S1 Teknik Kimia di ITS Surabaya. Beliau mendapat beasiswa S2 di jurusan Kimia di Taiwan, saya lupa nama perguruan tingginya. Tapi yang saya ingat, beliau lulus dengan IPK 3,9 sekian! pintar? pasti !
Beliau mendapat tawaran S3 dari Perguruan Tinggi tsb di Taiwan, akan tetapi karena permintaan dari Ibunda, akhirnya beliau balik ke Indonesia. IPK 3,9 lulusan S2 teknik Kimia dari Luar Negeri, selayaknya mendapatkan apresiasi. Kenyataannya?

Susah

            Sangat sangat sangat jarang sekali yang mau menerima lulusan S2. Mungkin hanya Perta**** dan S********* (kalau saya tidak salah menyebutkannya) yang mau menerima. Sayangnya beliau tidak diterima tes di kedua tempat tersebut. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, beliau mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah.
Tapi anda tahu dimana kerjanya? Di Bank ****** . Itupun yang dipakai S1 nya, S2 nya nda tidak terpakai. Yang lebih menyakitkan, Waktu ODP Bank ******. Waktu training, trainernya bilang di kelas,
"Walaupun di kelas ini ada yang Lulusan S2 dengan IPK 3,9 dari Luar Negeri, di sini tidak berguna".

            Lulusan S2 dengan IPK 3,9, Di taiwan saja ditawari S3, tapi di Indonesia tidak dapat tempat?
Apa Kata Dunia ?


Dari kisah tersebut dapat kita ambil kesimpulan, walaupun kita pintar sampai ditawari S3 dari Orang Luar Negeri (yang bukan sanak saudara kita), kita bukanlah orang pintar di negeri sendiri.

Mengenai sistem penilaian waktu kuliah juga begitu, ada 3 tempat yang menjadi bahan Survey saya, yaitu:

1. ITB Bandung

2. STAN Bintaro Tangerang

3. Unair Surabaya

            Dari 3 tempat tersebut (mungkin kampus anda juga iya), ada beberapa fakta yang menarik, yakni
1. Ketika selesai Ujian perkuliahan, entah itu UTS atau UAS, sangat jarang sekali atau kalau bisa dikata tidak pernah hasil ujian kita dikembalikan ke kita. Sehingga kita tidak mengetahui letak kesalahan dan bagaimana agar kita dapat memperbaiki kesalahan tersebut.

            Yah gimana mau memperbaiki yang salah menjadi benar, kalau bagian mana dari ujian kita yang salah saja tidak diketahui. Bahkan teman saya di Perminyakan ITB mengatakan, memang dosennya bisa memberi lembar ujian kita, tapi menunggu diprotes dulu
2. Kuliah = Nilai
Hal yang membuat saya dibuat bingung adalah, pintar seseorang dalam perkuliahan hanya diukur oleh Nilai. Sehingga banyak teman-teman kuliah mendewakan "Nilai" serta IPK

            Memang Nilai bisa menjadi tolak ukur dalam menilai kemampuan seseorang, tetapi timbul sebuah pertanyaan. Apa beda Belajar pada tingkat Perguruan Tinggi dan SD, SMP, serta SMA? kalau memang hanya Nilai yang dikejar?

Kalau saya membandingkan dengan teman-teman di Perguruan Tinggi di Curtin Singapura serta University Canberra, memang perkuliahan indikator berhasilnya juga nilai,
tapi tidak hanya nilai. Tetapi juga riset.
Ada beberapa hal akibat hanya nilai yang menjadi patokan dalam perkuliahan,

a. Saya yakin walau Perguruan Tinggi Negeri terpandang sekalipun, kalau bersaing dengan Perguruan Tinggi asing, akan jauh tertinggal lulusannya

b. Perguruan Tinggi tanpa Riset = Kurang Bermanfaat

            Paradigma yang terbentuk sewaktu perkuliahan sekarang adalah,
bagaimana mendapat nilai bagus, IPK bagus, sehingga nanti mendapat kerja mudah.
Sekadar perlu diketahui, ketika Seleksi kerja, memang ada syarat IPK diatas 3, tetapi hal tersebut hanya untuk seleksi administrasi saja dan untuk seleksi berikutnya, tidak ada beda antara mahasiswa ber IPK 3,0 sampai 4!

Beberapa hari waktu yang lalu saya berdiskusi dengan teman saya yang kuliah di Curtin Singapura, ada fakta menarik yang membuat saya kaget. Seperti yang kita ketahui bersama, perkuliahan Sarjana 1 (S1) di Indonesia memerlukan perkuliahan sebanyak 144 SKS. Hal yang menarik ketika saya mendiskusikan dengan teman saya adalah, ternyata perkuliahan di Singapura hanya memerlukan 72 SKS!
Perhitungannya begini:
- 1 Semester memakan waktu 3 bulan (trimester)

- Setahun bisa 3 semester (kira-kira sekitar 9 bulan)

- setiap satu semester hanya boleh mengambil 4 mata kuliah, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang

- Untuk mendapatkan gelar Sarjana di Curtin Singapura, hanya memerluka 6 semester! YANG BERARTI UNTUK MENEMPUH GELAR SARJANA HANYA MEMERLUKAN WAKTU 2 tahun!
                Itu kalau lancar ya, kalau molor ya mungkin 2 tahun 3 bulan atau paling parah 3 tahun. Kalau dibandingkan di Indonesia, perkuliahan membutuhkan 144 SKS. Satu semester hanya bisa mengambil maksimal 24 SKS. jadi kalau mahasiswa tersebut jenius, paling cepat memerlukan waktu 3.5 tahun!
Itu kalau paling cepet, kalau molor ya bisa 5 tahun - 6 tahun bahkan 7 tahun.
                Dari kisah tersebut ada yang menarik untuk diulas, yakni: Apakah dengan masa studi S1 di Indonesia yang lebih lama, mahasiswanya lebih pintar daripada Singapura? Ternyata tidak! Bisa kita lihat buktinya, banyak mahasiswa di Indonesia yang lulus hanya sekadar lulus.
            Hal lain yang kami diskusikan adalah mata kuliahnya. Di tempat saya kuliah, Manajemen Pemasaran hanya diajari teori dari buku. Ujian hanya disuruh belajar dari bab ini sampai bab itu. Selesai.
            Ternyata teman saya yang kuliah di Curtin Singapura, perkuliahan manajemen pemasarannya berbeda. Dosen tersebut meminta mahasiswanya untuk melakukan riset kecil tentang suatu produk. Apakah harga sebuah produk di sebuah supermarket dan supermarket yang lain sama atau berbeda? kalau berbeda, mengapa bisa berbeda? apa yang menyebabkan berbeda? apakah hal yang membuat sebuah konsumen memilih produk tersebut?
Dan laporan tersebut ditulis dalam bahasa inggris. Agar tidak terjadi Copy Paste seperti di tempat kita Mahasiswa diminta untuk mengupload di situs TurnItIn.com . Di situs tersebut akan diketahui berapa persen kemiripan kalimat dengan situs lain atau paper dari mahasiswa lain.
            Kalau saya tidak salah mendengar. Kalau tingkat kemiripan paper tersebut mencapai 20%, maka tugas tersebut akan ditolak. Dan bila tingkat kemiripan lebih dari 30%, mahasiswa tersebut akan di DO dari kampus tersebut
            Yah, kalau diterapkan di kampus kita, mungkin mayoritas sudah ke DO semua kali ya


            Dari 3 Poin di atas, saya mencoba mencari solusinya. Mungkin cara Malaysia dalam memperhatikan pendidikan dan riset bisa kita contoh. Dulu Malaysia, tetangga kita paling dekat dulu belajarnya dari kita. Tetapi sekarang kita tertinggal jauh dari mereka.
                Dulu tahun 1960-1970an Malaysia belajar ke Indonesia, guru-gurunya dikirim ke Indonesia. Bahkan Petronas (perusahaan perminyakan dari Malaysia) belajar ke Pertamina (perusahaan perminyakan dari Indonesia) yang pada saat itu jauh lebih unggul. tetapi bedanya Indonesia "tidak peduli" dengan Riset dan pendidikan, bahkan ada "moto" Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa!
            Sementara Malaysia begitu "care" terhadap Riset serta pendidikan
bahkan ya itu tadi sampai bela-belain guru mereka belajar ke Indonesia. Dan anda tahu perbedaannya sekarang?
                Indonesia yang tidak peduli dengan riset serta pendidikan, hanya menjadi negara yang hidup tidak segan, mati tidak mau. Di Indonesia, penduduknya yang pintar dan dapat beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri,
ketika balik ke Indonesia, menganggur! (seperti poin pertama yang diatas )
kenapa?

            Ya tidak ada riset, korupsi banyak, Hutang juga banyak. Bagaimana dengan Malaysia?. Dengar-dengar anggota DPR malaysia sekarang memakai mobil buatan Made in Malaysia dan Risetnya sangat maju. Ini terbukti perusahaan-perusahaan malaysia ikut kena imbas dari Riset, Petronas yang dulu belajar ke Indonesia, sekarang jauh melewati "senior"nya.
Bahkan Petronas memiliki salah satu gedung tertinggi dunia, Menara Kembar Petronas. Petronas pun mampu menjadi sponsor salah satu kontestan F1(bagi yang pencinta F1 pasti tahu ya kontestan tersebut). Perekonomian Malaysia pun jauh melesat dibanding Indonesia. Entah 10 atau 20 tahun lagi Malaysia seperti apa.
Dari tulisan saya yang diatas, dapat disimpulkan bagaimana Malaysia bisa maju pendidikan dan risetnya, caranya? Guru-guru serta dosen Malaysia disuruh belajar S2 dan S3 di Luar Negeri (tentu belajar Riset, bukan cuma dapat gelar). dan Guru-guru serta Dosen asing yang pintar Riset (Seperti guru-guru dan Dosen Indonesia ) diminta untuk mengajar di Malaysia.
Jadi istilahnya Persilangan Budaya (Cross Culture). Pelajar Malaysia mendapatkan benefit dari guru-guru serta dosen asing. Dan Guru-guru serta dosen Malaysia bisa belajar dan mengetahui cara Riset dengan baik dan benar. Akibatnya ketika Dosen serta guru-guru Malaysia pulang, mereka bisa mentransfer ilmu mereka ke murid-murid serta mahasiswa mereka. Dan pelajar-pelajar yang diajar oleh guru serta dosen asing tadi sudah bisa melakukan riset yang berguna bagi Malaysia.
******
Pada akhirnya Pertanyaan yang menarik pun timbul, Apakah kita tetap membiarkan pendidikan seperti sekarang? Apakah anak-anak dan cucu kita akan menikmati pendidikan yang seperti ini?
Semoga tulisan diatas dapat menambah ilmu dan wawasan. Semoga bermanfaat.