Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Saturday, July 25, 2015

Cara Meningkatkan IPK dari 2 Koma, menjadi 3 Koma






Ini saya ada pengalaman pribadi,

mengenai tips dan trik agar dapat meningkatan nilai perkuliahan teman-teman semua ya

dan yang terpenting sudah saya buktikan sendiri ya

dari sebelumnya IPK cuma 2,79,
sekarang menjadi 3,22 


berikut tips dan triknya 

semoga bermanfaat 

***********


a) miliki 1 buku tulis untuk tiap satu mata kuliah

jadi dengan adanya 1 buku tulis untuk tiap satu mata kuliah,
anda tidak kebingungan,
berbeda kalau anda pakai binder,
pasti hilang-hilang itu catatan di binder 

nah halaman pertama anda tulis untuk:


nama mata kuliah,
ruang kuliah berapa 
nama dosen (kalau ada no hp juga ya karena kalau ada perlu, biar enak ),
judul buku yang akan dipakai anda 

Serta pembagian nilai UTS dan UAS,
serta silabus perkuliahan selama satu semester berjalan,
anda harus tahu 


dan yang terpenting kalau ada nama kelompok,
catat di halaman pertama, nama, nomor induk mahasiswa,
dan no HP anda 

sehingga kalau ada tugas,
anda tidak kebingungan lagi 


b) Kalau ada perkuliahan,
simak perkuliahan seperti menonton tiket bioskop hari sabtu!

nah ini yang terpenting ya,

Yang namanya kuliah kan ada yang namanya SPP ya...
tiap semester,

Saya ambil contoh aja,
Tiap semester semisal SPPnya Rp 3.000.000

Nah semisal dalam 1 semester anda mengambil 18 sks,
dimana dalam 18 sks, ada 6 mata kuliah (1 Mata kuliah bobotnya 3 sks),
semisal 1 semester 1 mata kuliah 12 pertemuan (6 sebelum UTS, 6 sebelum UAS),

dan tiap semester, untuk 1 semester "jatah" bolosnya 4 (2 sebelum UTS, 2 sebelum UAS),
dan semisal ini anda mengambil semua jatahnya (misal loh ya, ga tau kalo bener )

1 mata kuliah bolos 4 x,
jadi 6 mata kuliah = 6 x 4 = 24

Nah SPP anda kan tadi semisal 1 semester Rp 3.000.000,
kan dalam 1 semester (kalo mengambil 18 sks), ada pertemuan di kelas sebanyak 6 x 12 = 72 pertemuan,

jadi rata-rata 1 pertemuan, 
anda sama saja dengan membayar kuliah sebanyak 
Rp 3.000.000 : 72 = Rp. 41.600,

saya bulatin Rp 40.000 aja ya ,

nah semisal tuh anda mengambil jatah bolos semua,

jadi dalam 6 bulan (semester),
anda telah membuang uang sebanyak,

Rp 40.000 x 24 = Rp 960.000!

itu kalau dirata-ratain dalam 1 bulan = Rp 160.000!


Yang lebih mengagumkan lagi,
kalo anda "bolos" 1 pertemuan (sebesar) Rp 40.000,

itu lebih mahal dibandingkan menonton di XXI !!!


jadi kalau anda kuliah,
niatkan seperti anda kuliah seperti menonton Bioskop saat XXI! 

dan yang terpenting,
ambil posisi tempat duduk waktu kuliah seperti menonton bioskop,
seperti duduk di tengah-tengah sehingga bisa melihat dosen dan perkuliahan denga jelas 


serta catat poin-poin penting yang dijelaskan dosennya 
serta jangan ragu-ragu untuk menanyakan materi yang kurang dimengerti 

karena pada dasarnya dosen suka kalau diajak diskusi mengenai materi perkuliahan,
entah di dalam kelas atau di luar kelas 

karena dosen juga butuh masukan dari kita 

jujur,karena saya memratekkan hal tersebut,saya pernah ditawari jadi asisten dosen 2x !

c) Kalau kurang jelas dan mengahadapi mata kuliah yang sulit,jangan segan-segan untuk meminta tutor dari kakak kelas yang pandai!

anda bukan manusia pertama yang kuliah di kampus anda ,dan pasti ada yang pernah mendapatkan nilai A untuk mata kuliah paling sulit! 

sehingga ketika anda mau mengambil mata kuliah yang sangat-sangat terkenal sulit, anda lebih baik untuk mulai mencari kakak kelas yang pandai,
dan pastikan dia juga sudah pernah mengambil mata kuliah tersebut dan minimal mendapat minim nilai AB,

bisa gawat, kalau ternyata kakak kelas anda yang mau memberi tutor anda ,cuma dapat C
yang ngajari C,
apalagi yang diajari nah setelah dapat siapa tutor anda ,pastikan anda juga punya buku nya 

d) sebelum pilih mata kuliah,pastikan dosen tersebut tidak pelit nilai maksud nya adalah,pernah saya mengambil mata kuliah statistik,hampir 90% dalam kelas tersebut mendapatkan D dan E,

nah yang menarik adalah,kalau dalam kelas tersebut 90% dalam kelas tersebut mendapatkan nilai D dan E,
itu yang salah bukan mahasiswanya



anda musti melakukan riset dulu siapa aja yang biasanya mengajar mata kuliah tersebut,semisal anda mengambil kelas Statistika kelas A,

dan waktu anda masuk kelas A,ternyata dosen yang mengajar adalah dosen pelit nilai lebih baik agan mengambil kelas Statistika kelas yang (pastikan dulu) bukan diajar oleh dosen pelit nilai

 saya yakin dalam satu mata kuliah,tidak semua dosen 
pelit nilai 

********

Insya Allah,
kalau anda mengikuti 4 langkah tersebut,saya jamin IPK anda yang semula 2 koma,akan menjadi 3 koma 

semoga bermanfaat ya 

Share ke teman-teman dan saudara yang membutuhkan ya

Bentuk dukungan untuk blog ini,
bisa ke 
https://karyakarsa.com/lebibaikmautahu

terima kasih yaaaa 

Friday, August 12, 2011

Ilmuwan Indonesia tidak DIBUTUHKAN di Negeri Sendiri, Pendidikan Harus Direformasi


Thread ini terinspirasi dari keprihatinan saya terhadap pendidikan sekarang ini. Semoga thread ini bisa menambah inspirasi dan wawasan kita semua. Tulisan in saya mulai dengan sebuah kisah kakak teman saya.
Dia adalah lulusan S1 Teknik Kimia di ITS Surabaya. Beliau mendapat beasiswa S2 di jurusan Kimia di Taiwan, saya lupa nama perguruan tingginya. Tapi yang saya ingat, beliau lulus dengan IPK 3,9 sekian! pintar? pasti !
Beliau mendapat tawaran S3 dari Perguruan Tinggi tsb di Taiwan, akan tetapi karena permintaan dari Ibunda, akhirnya beliau balik ke Indonesia. IPK 3,9 lulusan S2 teknik Kimia dari Luar Negeri, selayaknya mendapatkan apresiasi. Kenyataannya?

Susah

            Sangat sangat sangat jarang sekali yang mau menerima lulusan S2. Mungkin hanya Perta**** dan S********* (kalau saya tidak salah menyebutkannya) yang mau menerima. Sayangnya beliau tidak diterima tes di kedua tempat tersebut. Akhirnya setelah beberapa kali mencoba, beliau mendapatkan pekerjaan. Alhamdulillah.
Tapi anda tahu dimana kerjanya? Di Bank ****** . Itupun yang dipakai S1 nya, S2 nya nda tidak terpakai. Yang lebih menyakitkan, Waktu ODP Bank ******. Waktu training, trainernya bilang di kelas,
"Walaupun di kelas ini ada yang Lulusan S2 dengan IPK 3,9 dari Luar Negeri, di sini tidak berguna".

            Lulusan S2 dengan IPK 3,9, Di taiwan saja ditawari S3, tapi di Indonesia tidak dapat tempat?
Apa Kata Dunia ?


Dari kisah tersebut dapat kita ambil kesimpulan, walaupun kita pintar sampai ditawari S3 dari Orang Luar Negeri (yang bukan sanak saudara kita), kita bukanlah orang pintar di negeri sendiri.

Mengenai sistem penilaian waktu kuliah juga begitu, ada 3 tempat yang menjadi bahan Survey saya, yaitu:

1. ITB Bandung

2. STAN Bintaro Tangerang

3. Unair Surabaya

            Dari 3 tempat tersebut (mungkin kampus anda juga iya), ada beberapa fakta yang menarik, yakni
1. Ketika selesai Ujian perkuliahan, entah itu UTS atau UAS, sangat jarang sekali atau kalau bisa dikata tidak pernah hasil ujian kita dikembalikan ke kita. Sehingga kita tidak mengetahui letak kesalahan dan bagaimana agar kita dapat memperbaiki kesalahan tersebut.

            Yah gimana mau memperbaiki yang salah menjadi benar, kalau bagian mana dari ujian kita yang salah saja tidak diketahui. Bahkan teman saya di Perminyakan ITB mengatakan, memang dosennya bisa memberi lembar ujian kita, tapi menunggu diprotes dulu
2. Kuliah = Nilai
Hal yang membuat saya dibuat bingung adalah, pintar seseorang dalam perkuliahan hanya diukur oleh Nilai. Sehingga banyak teman-teman kuliah mendewakan "Nilai" serta IPK

            Memang Nilai bisa menjadi tolak ukur dalam menilai kemampuan seseorang, tetapi timbul sebuah pertanyaan. Apa beda Belajar pada tingkat Perguruan Tinggi dan SD, SMP, serta SMA? kalau memang hanya Nilai yang dikejar?

Kalau saya membandingkan dengan teman-teman di Perguruan Tinggi di Curtin Singapura serta University Canberra, memang perkuliahan indikator berhasilnya juga nilai,
tapi tidak hanya nilai. Tetapi juga riset.
Ada beberapa hal akibat hanya nilai yang menjadi patokan dalam perkuliahan,

a. Saya yakin walau Perguruan Tinggi Negeri terpandang sekalipun, kalau bersaing dengan Perguruan Tinggi asing, akan jauh tertinggal lulusannya

b. Perguruan Tinggi tanpa Riset = Kurang Bermanfaat

            Paradigma yang terbentuk sewaktu perkuliahan sekarang adalah,
bagaimana mendapat nilai bagus, IPK bagus, sehingga nanti mendapat kerja mudah.
Sekadar perlu diketahui, ketika Seleksi kerja, memang ada syarat IPK diatas 3, tetapi hal tersebut hanya untuk seleksi administrasi saja dan untuk seleksi berikutnya, tidak ada beda antara mahasiswa ber IPK 3,0 sampai 4!

Beberapa hari waktu yang lalu saya berdiskusi dengan teman saya yang kuliah di Curtin Singapura, ada fakta menarik yang membuat saya kaget. Seperti yang kita ketahui bersama, perkuliahan Sarjana 1 (S1) di Indonesia memerlukan perkuliahan sebanyak 144 SKS. Hal yang menarik ketika saya mendiskusikan dengan teman saya adalah, ternyata perkuliahan di Singapura hanya memerlukan 72 SKS!
Perhitungannya begini:
- 1 Semester memakan waktu 3 bulan (trimester)

- Setahun bisa 3 semester (kira-kira sekitar 9 bulan)

- setiap satu semester hanya boleh mengambil 4 mata kuliah, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang

- Untuk mendapatkan gelar Sarjana di Curtin Singapura, hanya memerluka 6 semester! YANG BERARTI UNTUK MENEMPUH GELAR SARJANA HANYA MEMERLUKAN WAKTU 2 tahun!
                Itu kalau lancar ya, kalau molor ya mungkin 2 tahun 3 bulan atau paling parah 3 tahun. Kalau dibandingkan di Indonesia, perkuliahan membutuhkan 144 SKS. Satu semester hanya bisa mengambil maksimal 24 SKS. jadi kalau mahasiswa tersebut jenius, paling cepat memerlukan waktu 3.5 tahun!
Itu kalau paling cepet, kalau molor ya bisa 5 tahun - 6 tahun bahkan 7 tahun.
                Dari kisah tersebut ada yang menarik untuk diulas, yakni: Apakah dengan masa studi S1 di Indonesia yang lebih lama, mahasiswanya lebih pintar daripada Singapura? Ternyata tidak! Bisa kita lihat buktinya, banyak mahasiswa di Indonesia yang lulus hanya sekadar lulus.
            Hal lain yang kami diskusikan adalah mata kuliahnya. Di tempat saya kuliah, Manajemen Pemasaran hanya diajari teori dari buku. Ujian hanya disuruh belajar dari bab ini sampai bab itu. Selesai.
            Ternyata teman saya yang kuliah di Curtin Singapura, perkuliahan manajemen pemasarannya berbeda. Dosen tersebut meminta mahasiswanya untuk melakukan riset kecil tentang suatu produk. Apakah harga sebuah produk di sebuah supermarket dan supermarket yang lain sama atau berbeda? kalau berbeda, mengapa bisa berbeda? apa yang menyebabkan berbeda? apakah hal yang membuat sebuah konsumen memilih produk tersebut?
Dan laporan tersebut ditulis dalam bahasa inggris. Agar tidak terjadi Copy Paste seperti di tempat kita Mahasiswa diminta untuk mengupload di situs TurnItIn.com . Di situs tersebut akan diketahui berapa persen kemiripan kalimat dengan situs lain atau paper dari mahasiswa lain.
            Kalau saya tidak salah mendengar. Kalau tingkat kemiripan paper tersebut mencapai 20%, maka tugas tersebut akan ditolak. Dan bila tingkat kemiripan lebih dari 30%, mahasiswa tersebut akan di DO dari kampus tersebut
            Yah, kalau diterapkan di kampus kita, mungkin mayoritas sudah ke DO semua kali ya


            Dari 3 Poin di atas, saya mencoba mencari solusinya. Mungkin cara Malaysia dalam memperhatikan pendidikan dan riset bisa kita contoh. Dulu Malaysia, tetangga kita paling dekat dulu belajarnya dari kita. Tetapi sekarang kita tertinggal jauh dari mereka.
                Dulu tahun 1960-1970an Malaysia belajar ke Indonesia, guru-gurunya dikirim ke Indonesia. Bahkan Petronas (perusahaan perminyakan dari Malaysia) belajar ke Pertamina (perusahaan perminyakan dari Indonesia) yang pada saat itu jauh lebih unggul. tetapi bedanya Indonesia "tidak peduli" dengan Riset dan pendidikan, bahkan ada "moto" Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa!
            Sementara Malaysia begitu "care" terhadap Riset serta pendidikan
bahkan ya itu tadi sampai bela-belain guru mereka belajar ke Indonesia. Dan anda tahu perbedaannya sekarang?
                Indonesia yang tidak peduli dengan riset serta pendidikan, hanya menjadi negara yang hidup tidak segan, mati tidak mau. Di Indonesia, penduduknya yang pintar dan dapat beasiswa S2 dan S3 ke luar negeri,
ketika balik ke Indonesia, menganggur! (seperti poin pertama yang diatas )
kenapa?

            Ya tidak ada riset, korupsi banyak, Hutang juga banyak. Bagaimana dengan Malaysia?. Dengar-dengar anggota DPR malaysia sekarang memakai mobil buatan Made in Malaysia dan Risetnya sangat maju. Ini terbukti perusahaan-perusahaan malaysia ikut kena imbas dari Riset, Petronas yang dulu belajar ke Indonesia, sekarang jauh melewati "senior"nya.
Bahkan Petronas memiliki salah satu gedung tertinggi dunia, Menara Kembar Petronas. Petronas pun mampu menjadi sponsor salah satu kontestan F1(bagi yang pencinta F1 pasti tahu ya kontestan tersebut). Perekonomian Malaysia pun jauh melesat dibanding Indonesia. Entah 10 atau 20 tahun lagi Malaysia seperti apa.
Dari tulisan saya yang diatas, dapat disimpulkan bagaimana Malaysia bisa maju pendidikan dan risetnya, caranya? Guru-guru serta dosen Malaysia disuruh belajar S2 dan S3 di Luar Negeri (tentu belajar Riset, bukan cuma dapat gelar). dan Guru-guru serta Dosen asing yang pintar Riset (Seperti guru-guru dan Dosen Indonesia ) diminta untuk mengajar di Malaysia.
Jadi istilahnya Persilangan Budaya (Cross Culture). Pelajar Malaysia mendapatkan benefit dari guru-guru serta dosen asing. Dan Guru-guru serta dosen Malaysia bisa belajar dan mengetahui cara Riset dengan baik dan benar. Akibatnya ketika Dosen serta guru-guru Malaysia pulang, mereka bisa mentransfer ilmu mereka ke murid-murid serta mahasiswa mereka. Dan pelajar-pelajar yang diajar oleh guru serta dosen asing tadi sudah bisa melakukan riset yang berguna bagi Malaysia.
******
Pada akhirnya Pertanyaan yang menarik pun timbul, Apakah kita tetap membiarkan pendidikan seperti sekarang? Apakah anak-anak dan cucu kita akan menikmati pendidikan yang seperti ini?
Semoga tulisan diatas dapat menambah ilmu dan wawasan. Semoga bermanfaat.



Thursday, August 4, 2011

[MIRIS] KULIAH di INDONESIA 144 SKS, Di SINGAPURA hanya 72 sks!

Assalammu'alaikum Wr.Wb.

Kawan, thread ini terinspirasi dari diskusi saya dan teman saya yang lagi studi di Curtin Singapura. Seperti yang kita ketahui bersama, perkuliahan Sarjana 1 (S1) di Indonesia memerlukan perkuliahan sebanyak 144 SKS (Satuan Kredit Semester). Hal yang menarik ketika saya mendiskusikan dengan teman saya adalah, ternyata perkuliahan di Singapura hanya memerlukan 72 SKS.

Perhitungannya begini :

- 1 Semester memakan waktu 3 bulan (trimester)

- Setahun bisa 3 semester (kira-kira sekitar 9 bulan)

- setiap satu semester hanya boleh mengambil 4 mata kuliah, tidak boleh lebih, tidak boleh kurang


- Untuk mendapatkan gelar Sarjana di Curtin Singapura, hanya memerluka 6 semester! YANG BERARTI   HANYA MEMERLUKAN WAKTU 2 tahun!

Itu kalau lancar ya. Kalau molor ya mungkin 2 tahun 3 bulan atau paling parah 3 tahun Kalau dibandingkan di Indonesia, perkuliahan membutuhkan 144 SKS. Satu semester hanya bisa mengambil maksimal 24 SKS. jadi kalau mahasiswa tersebut jenius, paling cepat memerlukan waktu 3.5 tahun!


Itu kalau paling cepet teman, kalau molor ya bisa 5 tahun - 6 tahun






*******

Sebuah fakta menarik kawan. Apakah dengan masa studi S1 di Indonesia yang lebih lama, mahasiswanya lebih pintar daripada Singapura? Ternyata tidak kawan! Bisa kita lihat buktinya, banyak mahasiswa di Indonesia yang lulus hanya sekadar lulus. Hal lain yang kami diskusikan adalah mata kuliahnya. Di tempat saya kuliah, Manajemen Pemasaran hanya diajari teori dari buku. Ujian hanya disuruh belajar dari bab ini sampai bab itu. Selesai.

Ternyata teman saya yang kuliah di Curtin Singapura, perkuliahan manajemen pemasarannya berbeda. Dosen tersebut meminta mahasiswanya untuk melakukan riset kecil tentang suatu produk. Apakah harga sebuah produk di sebuah supermarket dan supermarket yang lain sama atau berbeda? kalau berbeda, mengapa bisa berbeda? apa yang menyebabkan berbeda? apakah hal yang membuat sebuah konsumen memilih produk tersebut?

Dan laporan tersebut ditulis dalam bahasa inggris. Agar tidak terjadi Copy Paste seperti di tempat kita Mahasiswa diminta untuk mengupload di situs TurnItIn.com . Di situs tersebut akan diketahui berapa persen kemiripan kalimat dengan situs lain atau paper dari mahasiswa lain.


Kalau saya tidak salah mendengar. Kalau tingkat kemiripan paper tersebut mencapai 20%, maka tugas tersebut akan ditolak. Dan bila tingkat kemiripan lebih dari 30%, mahasiswa tersebut akan di DO dari kampus tersebut



Bagaimana menurut anda kawan kalau sistem SKS tersebut diterapkan di Indonesia?
Dan juga kalau penulisan tugas di"submit" dulu di turnitin.com terlebih dahulu?
biar tidak ada plagiat







Semoga tulisan diatas dapat memberi inspirasi dan menambah wawasan anda kawan,

Tuesday, August 2, 2011

Di Swiss Gaji Guru Melebihi Anggota DPR

Assalammu'alaikum Wr.Wb.

pagi ini ketika saya bangun dan siap2 kuliah, seperti biasa saya baca Jawa Pos dulu.Pada hal 4 koran tersebut pagi ini (2 Mei 2011), dalam memperinggati hari Pendidikan Nasional Duta Besar RI di Swiss, Bapak Djoko Susilo memberikan sebuat tulisan yang menarik


Di negara Swiss,  Gaji seorang Guru rata-rata 15.000 Franc Swiss per Bulan, itu sekitar 140 jt Rupiah!
Padahal UMR disana sekitar 3.000 Franc Swiss, dan rata-rata gaji Anggota DPR swiss sekitar 10.000 Franc Swiss

Bisa dikatakan Pemerintahan disana sangat menghargai Pendidikan. Untuk biaya S1 disana, perbulan sekitar Rp 900.000 (kalau dirupiahkan). Untuk S2 malah turun, sekitar Rp. 500.000 (kalau dirupiahkan) dan S3 cuma Rp 650.000!

gila!
padahal kalau di kota saya di sebuah PTN  S2 aja perbulan bisa Rp 1.000.000 lebih per bulannya

Setelah saya telaah lebih lanjut, mengapa Swiss begitu perhatiaan dengan Pendidikan karena ini kawan..

Kampus dan Pendidikan adalah sebuah tempat untuk Riset dan Penelitian

Tidak heran Swiss adalah negar penghasil Ilmuwan terbesar dunia,
salah satunya

Albert Einstein





Ya beliau  berasal dari sana, dia Alumni ETH Zuric.

Dan yang membuat kita tercenggang lagi adalah,
mereka meneliti tentang Kopi Luwak !




Merek kopi disana yang terkenal adalah Nespresso Coffe
setiap tahun Perusahaan Nespresso berhasil menyumbang devisa swiss
sebesar 9,5 Milliar US Dollar!

gila!









Padahal disini Kopi tidak diteliti dan dipedulikan.  Menurut anda kenapa ya, kita tidak mau meneliti?
padahal sumber daya alam begitu melimpah ruah. Yang mengherankan lagi adalah Perguruan Tinggi kita seakan-akan cuma menghasilkan pegawai, mengejar IP untuk membuktikan Pintar, dan mencari Kerja. Sudah selesai.

Bukankah lebih baik kalau perguruan tinggi menjadi tempat ajang riset seperti di Swiss,
bagaimana menurut anda kawan?